
PATI, Presisinusantara.com – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap pola belajar dan kebiasaan anak-anak. Kemudahan dalam mengakses berbagai informasi melalui gawai memberikan banyak manfaat, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan baru berupa menurunnya minat membaca buku di kalangan generasi muda.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Anggota DPRD Kabupaten Pati, Warsiti, yang menilai budaya literasi harus terus diperkuat agar anak-anak tetap memiliki kebiasaan membaca sebagai fondasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menurut Warsiti, kehadiran gadget dan media sosial merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak dapat dihindari. Teknologi digital dapat menjadi sarana belajar yang efektif apabila dimanfaatkan secara bijaksana dan sesuai kebutuhan pendidikan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan berpotensi menggeser kebiasaan membaca. Banyak anak kini lebih memilih menghabiskan waktu di depan layar untuk mengakses media sosial maupun hiburan digital dibandingkan membaca buku atau melakukan aktivitas belajar yang mampu mengasah kemampuan berpikir kritis dan memperluas wawasan.
“Teknologi harus menjadi pendukung proses pembelajaran, bukan menggantikan kebiasaan membaca. Literasi tetap menjadi bekal utama dalam membangun generasi yang cerdas dan berdaya saing,” ujarnya.
Warsiti juga menyoroti keberadaan perpustakaan desa yang telah tersedia di sejumlah wilayah di Kabupaten Pati sebagai bagian dari program peningkatan literasi masyarakat. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut merupakan langkah positif yang perlu terus didukung.
Meski demikian, ia menilai pemanfaatan perpustakaan desa masih belum optimal dalam membangun budaya membaca. Diperlukan inovasi program, pengelolaan yang lebih aktif, serta berbagai kegiatan edukatif agar perpustakaan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga menjadi pusat aktivitas belajar dan literasi bagi masyarakat.
Ia berharap pemerintah daerah bersama pemerintah desa dapat terus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan melalui penambahan koleksi buku, penyelenggaraan kegiatan literasi, hingga mendorong keterlibatan pelajar dan masyarakat dalam berbagai program membaca.
Lebih lanjut, Warsiti menegaskan bahwa keberhasilan membangun budaya literasi tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat agar kebiasaan membaca dapat ditanamkan sejak usia dini.
Menurutnya, peran orang tua juga sangat penting dalam mendampingi penggunaan gadget serta membiasakan anak membaca di rumah sehingga teknologi dan budaya literasi dapat berjalan secara seimbang.
Dengan kolaborasi seluruh pihak, Warsiti optimistis gerakan literasi di Kabupaten Pati dapat semakin berkembang dan mampu melahirkan generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, gemar membaca, serta siap menghadapi tantangan di era digital. (Red)
